Karet Sampai di Jambi, Begini Sejarahnya

Lenskeptebo.com Tercatat dalam sejarah Jambi, yang berhasil memakmurkan rakyat Jambi bukanlah minyak, melainkan dari hasil perkebunan Karet. Sebelum karet masuk ke Jambi, perekonomian di Jambi belum begitu berarti. Ekspor andalan dari Jambi terdiri dari hasil hutan terutama yaitu rotan, getah perca, dan sebagian kecil karet.

Pada tahun 1900 hutan menyumbang 94% ekspor, dengan nilai total keseluruhan 653.000 Gulden (Statistiek van den handel, de schepvaart en de in en uitvoerrechten in Nederlandsch Indie over het jaar 1900, 1901:206 – 210). Sementara itu, menurut Loscher-scholten (2008:321) menuturkan bahwa dibanding dengan perdagangan di Luar Jawa nilai perdagangan di Jambi kurang dari 1%.

Untuk meningkatkan pendapatan masyarakan Jambi serta dengan luasnya wilayah maka masyarakat Jambi mulai untuk menanam tanaman hevea (Karet). Menurut Loscher-scholten (2008:322) Jambi berada dalam barisan depan dalam bisnis ini; perkebunan karetnya sudah disebut dalam berbagai laporan tahun 1904.

Tanaman Hevea tumbuh liar dan subur serta cocok dengan iklim maupun letak geografis di Jambi. Pada awalnya, tahun 1890an Rakyat Malaka mulai menanam hevea dengan bibit yang diselundupkan dari Negara Brazil, dan para pedagang china mengimpor benih tanaman itu ke Sumatera dan Kalimantan.

Penanaman karet secara besar – besaran tejadi dalam kurun waktu 1910 – 1912 dikarenakan tingginya harga getah karet pada saat itu. Hevea ditanam dimana – mana kecuali dibeberapa daerah yang memiliki kontur wilayah tang tinggi. Pohon Hevea ditanam berderet – deret seluas empat kilomeret persegi, meliuk – liuk mengikuti kontur sungai besar, karena sarana transportasi terjamin disana. Pada tahun 1918, pembudidayaan hevea menjadi hal lazim, dan perkebunan kecil milik keluarga mendominasi ( A. H. P Clemens dalam Clemens dan Lindblad, 1989:214-219)

Proses penyadapan dilakukan oleh para petani itu sendiri tanpa adanya pendampingan dari professional. Para pemilik kebun tidak membiarkan karet untuk beristirahat. Sementara itu, untuk kebun karet berkala luas disadap professional oleh para pekerja dari Jawa (Loscher-scholten, 2008:323).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!